Home » Blog » Singkawang » tak cuma mimpi tcm

Tak Cuma Mimpi (TCM)

Tak Cuma Mimpi bukan cerita yang dikarang karena baru habis nonton drama korea atau sinetron televisi swasta yang cerita selalu tentang harta warisan atau sang suami/istri yang jahat kepada anak tirinya, namun ini kisah nyata yang tidak seharusnya anda baca, karena menurut saya hanya akan menghabiskan waktu anda saja. Lagipula ini hanyalah curhat kepada Tuhan yang saya catat di blog agar tidak lupa saat berdoa nanti.

Pelayanan Petugas Salah satu Dinas di Kota Singkawang

Hari itu (24 sept 2019) tepat jam 11:00AM saya melangkah keluar ruang kerja, lalu berjalan kaki sepanjang ±150 meter dengan langkah setengah malesbanget sambil membawa semua persyaratan yang sudah mati-matian* diperjuangkan dari pemerintah Kota di Jawa Barat (mati-matian = investasi biaya, waktu, tenaga, pikiran) akhirnya saya sampai di depan pintu masuk kantor berinisial “C” Capil di Kota Singkawang. Pintunya selalu tertutup, mungkin ada AC, tapi kok masih sangat panas? ahsudahlah.

Ini adalah kantor yang menurut saya akan jadi pemenang (juara bertahan) jika ada pertandingan pelayanan tidak ramah front-end. Karena sepengalaman saya petugas front-end kantor ini sejak 3 tahun yang lalu saya menginjakkan kaki di Kota Singkawang tidak pernah melayani saya dengan senyum dan seingat saya waktu itu sekitar akhir tahun 2016 saya merasakan pengalaman di Loket 1 yang sering menjawab dengan nada setengah menyindir, walaupun ada senyum, tapi senyum menghina.

Oke lanjut, kita lupakan saja masalah pelayanan. Mungkin pegawainya tidak di rekrut dari test, tapi orang dalam (maklum, di kampung Singkawang).

Mengurus surat menyurat di Kota Singkawang

Setelah menunggu beberapa lama, saya pun bertanya kepada bapak-bapak tua yang sepertinya tidak berasal dari Kota Singkawang setelah lelah mengurus persyaratan disana-sini.

Dengan menggunakan bahasa daerah setempat (melayu singkawang), saya pun mulai bertanya:

..pak, tadi pakai nomor antrian gak?” tanya saya.
..oh tidak, langsung saja ke loket yang disarankan” jawabnya.

Dan bapak-bapak itu pun langsung menghampiri temannya yang tampaknya kesal karena masih ada surat-surat yang belum juga memenuhi persyaratan.

Saya langsung menuju ke Loket 3, setelah disarankan oleh mbak-mbak yang tampak dari wajahnya udah setengah kelaparan karena belum makan siang. Lalu saya pun berdiri dan menghampiri meja di Loket 3. Tampak seorang wanita yang sedang sibuk membolak-balik kertas sambil menulis tanpa memperdulikan orang yang silih berganti berdiri di depannya berharap ditanya oleh si mbak judes.

Kemudian dia pun bertanya kepada saya yang gak mau duduk di Kursi sebelum diladen:

mau apa bang!!” dia bertanya.
urus surat pindah domisili kak” jawab saya dengan tampang yakin langsung diproses.

sambil memberikan beberapa lembar kertas perjuangan yang menghabiskan dana jutaan, waktu mingguan, dan keringat se-galon-an.

“Kamu harus minta surat permohonan ke RT, Lurah, dan Camat!”

….jawab kakak itu dengan muka masam dan tanpa melihat ke arah wajah saya sama sekali.

Ini Kota apa hebatnya?

Dengan tampang kaget akhirnya saya membereskan berkas-berkas tersebut dan meninggalkan kantor yang harapan saya dalam waktu dekat memberikan pelatihan pelayanan kepada karyawan front-end nya, terutama pelatihan never stop smile.

Sepanjang jalan saya mikir, kenapa tidak diwakilkan oleh aplikasi sih itu proses. Padahal dengan aplikasi, hanya tinggal tekan enter udah beres itu proses. Tanpa harus berjuang mati-matian* (mati-matian = investasi biaya, waktu, tenaga, pikiran, menghadapi petugas front-end dinas berinisial “CDisdukcapilsingkawang yang belum dapat pelatihan never stop smile).

Sistem Informasi Surat Menyurat Kota Singkawang

Sebagai seorang software engineer kelas menengah kebawah dan standar rakyat paling biasa, saya bisa memaklumi faktor-faktor yang dihadapi jika ingin membangun sebuah sistem berbasis aplikasi di level enterprise.

Kita akan menghadapi masalah yang super kompleks dalam perancangan rangkaian alur algoritma sehingga mencapai tujuan dari pembuatan aplikasi tersebut. Kita akan bicara soal kehidupan, yang akhirnya kita akan tau bahwa aplikasi hanyalah alat bantu yang memudahkan pekerjaan, bukan mesin dewa yang bisa memenuhi segala permintaan aneh anda.

Namun tidak sedikit putra daerah setempat yang mempunyai keahlian dan keterampilan dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Percayakan kepada mereka, jangan panggil dulu orang dari luar Kota Singkawang!!! Jangan atas nama Proyek!!!, jangan atas nama Par-TAI !!!. Karena bicara soal IT kita tidak bisa main-main, ini mesin algoritma, ini Pekerjaan Spiritual. Umur aplikasimu tidak akan langgeng jika diurus tanpa pakai feel yang benar-benar dengan niat menolong. Smart City akan selalu menjadi mimpi, walaupun sudah terlaksana, namun umurnya tak akan lama.

Tak Cuma Mimpi

Semoga impian visi Singkawang Hebat TAK CUMA MIMPI (TCM). Itu adalah judul lagu teman lama saya seorang aktivis kota setempat yang sebentar lagi akan di track dan dapat di bajak secara gratis oleh orang-orang yang tidak menghargai karya orang lain.

Dan mohon maaf, saya tidak memberikan solusi seperti kebanyakan kata penutup di tulisan saya karena………………….takut dibikin proyek. Lebih baik lupakan saja semua ocehan di tulisan ini dan sebaiknya anda kembali ke pekerjaan anda selain main game online atau ngopi ngalor-ngidul bikin wacana tanpa pernah terlaksana.

DISCLAIMER: dalam tulisan ini saya tidak menyalahkan siapapun, karena kita manusia tidak ada yang sempurna. Hanya mungkin semua persoalan ini perlu dipoles dengan SDM pada bidang yang kita tekuni. Dan buat mbak-mbak yang berada di belakang meja front-end di Dinas berinisial C disdukcapil sebaiknya murah senyum, biar nggak jomblo lagi (bagi yang belum laku). Juga dinas-dinas lainnya yang berbasis pelayanan, tolong itu di bikinin Diklat SDM buat para pekerja yang berhadapan langsung dengan masyarakat (Front-end) layaknya Pak Satpam di Bank yang buka pintu aja sambil senyum, apalagi kalau amoy yang masuk #ups

….dan hati-hati kalau berhadapan sama blogger, mereka curhat lewat blog yang bisa di akses orang seluruh dunia, tersebar kemana-mana, dan diketahui hingga anak cucu cicit anda. Lalu dengan kata kunci pencarian yang di setting peringkat 5 besar teratas pada pencarian google dan mesin pencari lainnya 😀

Makanya

  • #makanya, gaji orang IT tuh jangan kayak honorer Pemkot.
  • #makanya, anggaran jangan buat event melulu.
  • #makanya, milih pemimpin daerah itu yang lulusan pendidikan pemerintahan selama 30 tahun. Jangan par-TAI.
  • #makanya, budaya orang dalam seimbangi dengan kualitas yang dimiliki. #makanya, belajar dari negara luar.
  • #makanya, kalau ada dana sekolah yang tinggi, kalau tak punya dana sekolah lewat wifi (dari youtube, google, dsb).

Bukan salah TCM, tapi SDM
SDM Unggul, Singkawang Hebat

arminisme

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *