Home » Blog » Opini » Membahas Lebih Dalam Tentang Partner Dalam Hidup Kita

Membahas Lebih Dalam Tentang Partner Dalam Hidup Kita

mengenal partner adalah

Partner itu penopang. Partner itu Pasangan Hidup. Partner itu Sumber Energi. Partner itu saksi sejarah yang rela menghabiskan waktu, uang, tenaga, dan pikirannya demi membantu dalam bekerjasama menuju tahap kemajuan yang di inginkan.

Peran partner itu hampir tidak kita sadari ketika kita mulai meninggikan ego demi mendapatkan partner yang jauh lebih baik lagi. Lingkungan kenegaraan, masyarakat, anggota keluarga, teman spesial, sahabat terdekat, bahkan benda mati yang ada disekitar kita merupakan partner kita. Entah itu yang terbaik atau tidak, kelihatan atau tidak, dan tidak dapat dirasakan secara langsung, namun sebaiknya sumbangan kebaikan yang mereka lakukan akan sangat berpengaruh bagi perjalanan panjang yang kita tempuh selama ini.

Kecewa terhadap partner yang dipercaya

Jalan hidup ini tidak pernah lurus, mereka bebelok-bekok, berliku, dan bahkan mencelakakan kita. Sering kali kita mendengar kejadian-kejadian yang tidak dissangka disebabkan karena partner. Lalu apa kriteria partner yang baik dan bagaimana kita menyikapinya? Di bawah ini merupakan ilustrasi sederhana yang saya simpulkan sendiri mengenai pola perjalanan anda yang dipengaruhi oleh kontribusi partner.

alur perjalanan partner


  1. Partner Pengkhianat


    Pola diatas menunjukkan efek partner yang sangat buruk bagi perjalanan hidup anda. Partner seperti ini harus dijauhi secepat mungkin karena tidak banyak memberikan Kontribusi yang baik di dalam hidup anda.


  2. Partner Serapan


    Serapan diambil dari kata serap (kata kerja = menyerap). Pola partner serapan tidak seperti pola Partner Pengkhianat. Yang artinya partner ini plin-plan, labil, bahkan sekali-kali bertopeng dalam peran serta memberikan kontribusi yang tidak baik dalam kehidupan kita. Partner seperti ini jauh lebih berbahaya daripada partner tipe pertama karena tidak kasat mata. Itu sebabnya diberi nama Serapan, layaknya air yang menyerap ke dalam kain, tanah, pohon, dsb dengan gerakan yang hampir tidak kita sadari.

    Diperlukan Ilmu pengetahuan, pengalaman, maupun konsultan yang dipercaya untuk dapat membimbing anda dalam menjalani hidup bersama partner dengan tipe seperti ini. Kerendahan hati dan sifat mau belajar akan membuat anda mempunyai benteng yang sangat kuat dalam menangkal pengaruh Partner Serapan ini.


  3. Partner Sejati


    Sering kita mendengar kata-kata partner sejati di dalam cerita rekan-rekan kita. Namun apakah itu benar-benar partner sejati? Banyak pasangan yang pacaran lalu menikah bertahun-tahun lalu mereka bercerai dikarenakan perselisihan yang tidak berujung dan semakin meruncing. Apakah itu partner sejati?

    Pola partner sejati yaitu lurus, berkelok-kelok, lalu kembali lurus lagi. Partner seperti ini adalah partner terbaik yang bisa membimbing kita kearah yang lebih baik. Mereka marah, mereka selalu cerewet, dan mengingatkan kita ketika kita berbuat hal yang melanggar aturan dalam norma-norma sosial. Partner sejati akan membantu anda secara ikhlas, mereka berjuang, dan selalu berusaha untuk membantu kita dalam melakukan hal-hal yang membuat kita selangkah bisa menjadi manusia yang berguna kedepannya.

pasangan hidup

Kesimpulan

Pola tersebut tidak akan selalu menjadi pola yang sama kedepannya. Bisa saja yang awalnya partner kita adalah partner sejati, namun dalam beberapa tahun karena sudah sangat lama terpisah lalu mendadak berubah menjadi tipe partner penghianat.

Maka sikap yang harus kita ambil yaitu: Mudah Memaafkan.

Sakit hati itu pasti, dan itu sangatlah manusiawi, namun pernahkah kita berpikir bahwa diri kita sendiri juga tidak lebih baik dari mereka? Tuhan tidak akan memberikan kesempurnaan melebihi dirinya. Karena memang pada kodratnya manusia dilahirkan dari ketidaksempurnaan sehingga pada usia dewasa dapat menentukan sikap dan jatidiri dalam mencapai yang dicita-citakan. Itu sebabnya saya katakan bahwa diperlukan ilmu pengetahuan, pengalaman, maupun konsultan di dalam hidup kita.

Setiap dari kita pasti pernah terjebak dalam godaan Ego yang sangat tinggi sehingga kita rela melakukan hal-hal yang membuat partner kita kecewa. Jika dibalik maka tindakan yang seharusnya kita lakukan adalah Maafkanlah !, namun kita juga harus dapat menyeimbangkan sikap kedepannya dalam berhubungan dengan partner yang sudah mengecewakan kita. Sedikit dijauhi dan fokus untuk menjadi yang lebih baik, maka secara tidak langsung kita memberi contoh kepada mereka untuk hal-hal menuju kebaikan.

Untuk sementara tinggalkan dulu lingkungan para partner yang sudah mengecewakan anda, dan carilah partner tipe ketiga yaitu partner sejati agar kelak ketika kamu sudah menjadi lebih baik, kamu akan menjadi suri tauladan bagi mereka yang masih belum mampu melawan godaan ego mereka yang sangat tinggi.

Pustaka

Artikel ini merupakan kajian yang belum Resmi, artikel ini murni hasil kajian saya sendiri di www.armin.id pada 03 Oktober 2018, sekitar pukul 02 dinihari. Dan saya yakin artikel ini masih jauh dari sempurna. Bagi teman-teman yang ingin turut menyempurnakan hasil kajian ini. Sekiranya dapat dilakukan dengan kritik, saran, maupun dukungan untuk penulis agar tetap dapat menyebarkan virus edukasi ini. Silahkan di tulis pada formulir komentar yang sudah saya sediakan di bawah artikel ini. Salam Sejahtera dan Sehat Selalu – Armin Martajasa, ST

Tags:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *